jump to navigation

Sejarah yang gemilang dari Agama yaitu Tasawuf 2016/02/12

Posted by M4ZM4N in Bahasan, cerita kita, sejarah.
Tags: , , , , , ,
trackback

Tasawuf adalah suatu dimensi dari agama Islam, Yaitu dimensi dalam. Tiap usaha untuk menjadikannya suatu aliran yang otonomi atau suatu fungsi yang berdiri sendiri, tentu akan merendahkan martabatnya. Usaha semacam itu bertentangan dengan Islam, agama kesatuan dan keseluruhan. Usaha tersebut juga berarti memisahkan antara pemikiran dan tindakan dan antara segi luar dan segi dalam. Tasawuf adalah suatu bentuk spiritualitas yang khas dalam islam dan merupakan  keseimbangan antara jihad akbar (besar) yaitu perjuanga kejiwaan melawan tiap keinginan yang membelokkan manusia dari Setrumnya, dan Jihad asghar (kecil) yakni usaha untuk kesatuan dan keharmonisan masyarakat islam melawan segala bentuk kemusrikan,kekuasaan, kekayaan, dan pengetahuan yang salah yang akan menjauhkannya dari jalan Tuhan.

Oleh karena itu adalah salah untuk menggangap Tasauf itu sama dengan mistik Kristen atau meditasi Hindu. Memang benar tersiarnya Islam di daerah daerah yang luas, kontak dan tukar menukar fikiran telah terjadi antara pendeta pendeta Kristen di Sahara dan mistik Kristen mereka dengan ahli ahli ilmu ketuhanan di iskandariyah dan tulisan tulisan Ptolomieus dengan kebijaksanaan hindu dan kezuhudan budha. Penyebaran yang timbal balik tersebut telah memperkaya pandangan masing masing, dan yang ada bukan tasauf tetapi aliran dan tradisi,sehingga boleh dikatakan jumlah aliran tasauf adalah sebanyak ahli tasauf. akan tetapi sumber sumber yang mendalam dari tasauf adalah dari Al’Quran.

Antara mistik Kristen dan tasauf Islam, bagaimanapun keagungan masing masing,terdapat suatu perbedaan yang pokok, baik dalam tujuan maupun dalam metoda.

  •  Mistik Kristen adalah dialog dengan pribadi yesus, dan dialog itu Tuhan bersemayam dalam kehidupan orang Kristen. Bagi seorang islam, yesus itu hanya seorang Nabi dan TUhan itu tidak menampakkan diri, akan tetapi menampakkan kata-kata Nya dan hokum-hukum Nya. Bagi seorang islam, mempercayai bahwa kata Tuhan menjadi daging (pribadi yesus), atau mengatakan bahwa Tuhan itu Bapak Yesus, berartii mengubah sifat transenden dari Tuhan. Tidak ada persamaan antara Pencipta dan mahkluk, dan karena itu bagi beberapa golongan yang bersifat keras, kita tidak membicarakan tentang rasa cinta Tuhan. Dalam Islam kita tidak menemukan “intimity” dengan Tuhan,seperti yang didapat dari ahli ahli mistik Kristen.Sebaliknya bagi seorang sufi, tingkat ynag paling tinggi dalam perjalanannya adalah tingkat dimana hukum Tuhan tidak lagi terasa sebagai suatu perintah dari luar, dimana ia sampai kepada hilangnya segala keinginannya. Pada tingkat itu kemauan Tuhan dapat meliputinya seluruhnya, dan kemauan Tuhan tersebut menjadi pusat dirinya, dan dalam keadaan semacam itu yang ada adalah hubungan dengan keseluruhan serta kesatuan dengan keseluruhan.
  • Metoda tasawuf juga berbeda dengan metoda mistik Kristen. Tasawuf Islam tidak puas dengan sekedar pemikiran tentang Tuhan yang berakhir dengan rasa bersatu dengan Tuhan.Dari pengalaman semacam itu ia hanya mengambil tenaga untuk mengarahkan tindakannya kepada “amar ma’ruf” kepada realisasi masyarakat manusia menggunakan benda-benda, karena sebagaimana dikatakan dalam quran II:30, Manusia itu adalah Khalifah Allah di muka bumi, yang bertanggung jawab terhadap keseimbangan dan keharmonisan alam dan manusia. Dengan begitu  maka waktu bertafakur (kontemplasi) adalah waktu ia mengumpulkan dan memusatkan kekuatan kekuatan yang dapat “meledakkan dunia”.

Tentu saja ada titik percampuran dan persamaan antara mistik Kristen dan tasawuf Islam.

  •  Perlunya Zuhud, ini adalah ajaran ahli tasawuf yang permanen. Abu Hasan AN Nuri member definisi tentang orang sufi sebagai “ orang orang yang tidak memiliki apapun dan tidak dimiliki oleh siapapun”. Al Junaid berkata :”Tasawuf berarti Tuhan menjadikan kamu mati, untuk hidup kembali di dalam Nya.”
  • Suatu rasa cinta yang otentik (benar) menjadi mungkin, rasa cinta tersebut tidak merupakan rasa cinta untu memperoleh rasa lezat bagi diri kita sendiri, akan tetapi merupakan rasa cinta untuk pemberian dan cinta untuk menjauhi. Dengan para sufi Islam, kita berdiri jauh dari konsepsi Plato tentang cinta sebagaimana yang termuat dalam karangannya Phedre dan Banquet. Menurut Plato sesorang dapat melalukan perjalanan yang kontinyu, bermula dari rasa cinta terhadap keindahan badaniah, kemudian terhadap keindahan jiwa, dan akhirnya sampai kepada keindahan yang sebenarnya, keindahan Zat yang baik (the Good). Islam tidak sesuai dengan faham dualism antara jiwa dan badan dan lebih penting lagi transendensi dalam islam tidak dapat menerima kontinuitas ini.
  • Titik pertemuan ketiga disamping zuhud dan rasa cinta antara tasawuf dengan mistik Kristen adalah syair (puisi). Tasawuf Islam telah melahirkan syair-syair yang secara universal sangat tinggi mutunya. Dalam dunia syair, yaitu karya-karya Ar Rumi (1207 – 1273. Matsnawi, karangan Jalaludin Ar Rumi, suatu pemikiran puitis yang sangat luwes tentang qur’an, mengatakan pada kita dalam bahasa puisi, hal hal yang tidak dapat di terangkan dengan bahasa lain, hal yang tak dapat di ekspresikan dengan kata kata, yang tak dapat diberi definisi dengan konsep, akan tetapi hanya dapat ditunjukkan dengan symbol.

Titik persamaan tasawuf Islam dengan mistik Kristen tidak boleh menutup sifat/karakteristik yang spesifik dalam tasawuf Islam sebagai ekspresi dari rasa taqwa, artinya sebagai momen untuk bertafakur secara mendalam dalam perspektif global dari suatu tindakan yang di tentukan oleh hukum Ilahi untuk mengatur masyarakat manusia.

      Walaupun spiritualitas ahli ahli syair sufi seperti syair Jalaluddin ar Rumi, atau Al Hallaj sangat menarik dan menggairahkan orang orang Kristen, umpamanya, kita tidak dapat melupakan bahwa Islam tak dapat dipahami sekedar dengan membaca syair Al Hallaj atau Ar Rumi, akan tetapi harus difahami dengan mengkaji alquran dan sunnah Nabi. Kita harus ingat bahwa Tasawuf hanya merupakan aspek yang bersifat kontemplatif dan aktif serta militant, dan sifat sifat itu tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainya, seperti yang kita temukan dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW , dan juga dalam kehidupan Ali bin Abi Thalib serta Amir Abdul Qadir, pemimpin dari aljazair.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: