jump to navigation

Munculnya tradisi jumat pahing di menggoro 2013/10/09

Posted by M4ZM4N in 1, Bahasan, cerita kita, sejarah, temanggung, tembarak, tradisi.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

IMG_8171

Juru kunci dan takmir masjid kuno tersebut bernama kyai Pahing mengadakan kegiatan mujahadah atau do’a bersama awalnya malam jum’at, dengan pemimpin atau Syaikh mujahadahnya Kyai Adam Muhammad, dilakukan semalam suntuk dengan acara : Pengajian dilanjutkan Do’a bersama (mujahadah). Dari Jum’at ke Jum’at berikutnya jamaahnya semakin bertambah yang datang dari berbagai daerah, dan bahkan pengunjungnya tidak hanya yang ingin mujahadah saja tapi termasuk yang ingin tahu lebih dekat, ingin ngalap berkah Kyai dan sebagainya. Karena setiap kegiatan mujahadah banyak membutuhkan makan dan minuman karena banyak pula yang bermalam, maka Nyi Pahing (istri Kyai Pahing) memulai jualan di seberang masjid dengan menjajakan makanan dan minuman kebutuhan para pendatang. Kyai Pahing meninggal dan dimakamkan di Dusun Ngabean Menggoro begitu pula Nyai Pahing. 

Berita tentang kegiatan ini semakin meluas karena adanya semacam mitos bagi pengunjung yang mampu merangkul salah satu tiang atau tiang keramat dalam masjid itu maka segala keinginannya akan terkabul. Merangkul tiang ini dengan satu tangan baik kiri atau kanan sma saja. Di sini memang muncul keajaiban, yaitu tidak semua pengunjung mampu menghubungkan ujung jari mencapai bahunya ketika merangkul. Tapi yang terjadi cukup aneh, ada yang tampaknya tubuhnya tinggi tentu tangannya panjang tetapi tidak kesampaian dalam merangkul tiang tersebut, tetapi ada seorang pendek gendut nyatanya mampu merangkul dengan menempelkan ujung jarinya sampai ke bahu. Ini bisa di buktikan, karena penulis juga mencobanya tapi tidak kesampaian pula, tapi dengan itu ada pengunjung dari daerah Kaliangkrik Magelang dapat melakukanya.

Diperkirakan "makam Kyai Adam Muhammad" terletak di antara 2 pohon tanjung

Diperkirakan “makam Kyai Adam Muhammad” terletak di antara 2 pohon tanjung

Area depan serambi masjid

Area depan serambi masjid

Kyai Adam Muhammad meninggal yang kemudian di makamkan di depan Masjid, diantara pohon tanjung, yang sampai sekarang makam tersebut masih ada dan berada di depan masjid tepat gapura pintu masuk ke masjid. Karena para Kyai pengelola masjid sangat sibuk dakwah dan kegiatan lainya sepeninggal Kyai Adam Muhammad, maka upacara tradisi ini dilaksanakan selapan sekali (35 hari sekali) yaitu tiap malam Jum’at Pahing dan berlangsung sampai sekarang. Perkembangan antara kegiatan ritual di dalam masjid dan kegiatan jualan di seberang masjid seimbang, para pedagang dari berbagai wilayah menjajakan daganganya di tempat itu, Cuma yang dominan adalah jajanan makanan khas menggoro “Brongkos Kikil Kambing” yang terdiri atas kaki-kaki (kikil) kambing dan kepalanya, dengan masakan atau bumbu kusus agak pedas yang tidak ditemukan di daerah manapun selain Menggoro.

Saka yang konon "bertuah"

Saka yang konon “bertuah”

Kondisi dalam masjid

Kondisi dalam masjid

Diantara 16 saka ada beberapa yang di ganti karena rusak

Diantara 16 saka ada beberapa yang di ganti karena rusak

Diantara yang menjadikan tradisi jumat pahingan ini terkenal adalah karena adanya mitos – mitos yang tersebar dari mulut ke mulut, dan biasanya yang mengabarkan adalah mereka yang telah berhasil menggapai cita-citanya lantaran berkunjung, mujahadah, ziarah dan lain sebagainya dalam mengikuti upacara ritual. Diantara mitos-mitos tersebut ialah :

  • Tiang masjid bertuah

Masjid menggoro sebagai salah satu masjid Wali menurut kepercayaan peziarah adalah masjid yang bertuah, diantara keajaiban yang di anggap bertuah antara lain :

    • Tiang penyangga dalam masjid berjumlah 16 buah dan pada bagian atas tiang penyangga terdapat ukiran khas Sunan Kalijaga, Sehingga menurut kepercayaan mereka, bahwa barang siapa yang berhasil merangkul tiang (saka) tersebut dengan satu tangan, dengan cara merangkul dengan menempelkan ujung jarinya pada bahu sebelahnya. Kalau dapat menyentuh itu menandakan semua hasrat dan keinginan serta usaha-usahanya akan berhasil dan mendapatkan keselamatan.
  • Dari 16 tiang masjid yang dianggap sangat bertuah ada di baris belakang (dekat pintu masuk) yang nomer dua dari kiri, dan atau yang terdapat ukiran di ujung tiangnya. Dengan seizin Allah kalau hasratnya akan terkabul tidak pandang orangnya tinggi besar yang dapat menyentuh bahu, namun bias jadi yang pendekpun mampu merangkul dan menyentuhkan ujung jarinya ke bahu. Ini kenyataan, sebab pada malam jumat pahing, tanggal 4 februari 2005 yang lalu menyaksikan sendiri terhadap adanya pengunjung yang mampu melakukan tersebut.
  • Pengunjung yang melakukan mujahadah di dalam masjid dengan imam masing masing satu persatu merangkul salah satu tiang atau mencoba semua tiang dirangkul.
  • Pelunasan Nazar atau Midang

Para pengunjung yang datang di masjid menggoro ternyata banyak pula yang karena menunaikan Nazar (orang wonosobo menyebutnya Midang) setelah usahanya berhasil atau cita-citanya dikabulkan oleh Allah swt. Nazar yang dilakukan ada yang dilaksanakan pada malam haribanyak pula yang pada siang harinya, biasanya para orang tua yang mengucapkan nazar atas anaknya yang sakit-sakitan kemudian dinazari kalau sembuh akan diajak ke jumat pahingan, maka setelah anaknya sembuh mereka tunaikan nazarnya tersebut dengan dating ke pasar depan masjid Menggoro pada tiap Jum’at pahing, dengan cara setelah sampai pasar atau arena jumat pahingan, salah sebagian anggota badannya diolesi dengan boreh ( bunga yang dilengkapi dengan enjet dan kunir diaduk dengan halus sehingga bunga dan perlengkapan tersebut dinamai Kembang Boreh). Dengan begitu maka dianggap telah melunasi nazarnya.

Menurut sebagian pengunjung misalnya Ibu Saroh (70 tahun) dari bengkal Kranggan Temanggung menuturkan, kalau anaknya sakit dan denganberbagai obat tidak sembuh-sembuh,maka dengan perantara obat sesuai dengan petunjuk mantra, dokter atau siapa saja sebagai lantaran disertai nazar jumat pahingan akan cepat sembuh dan tidak kambuh lagi. Untuk itu jika anda berkunjung ke area Jumat pahingan pada hari antara jam 06.00 -09.00 banyak orang tua yang menggendong anaknya datang dan menorehkan boreh pada anaknya dan tentunya tidak lupa dengan mainan anaknya seperti balon, mobil-mobilan,topeng dan sebagainya. Begitu pula orang dewasa yang bernazar kalau sakitnya sembuh akan ke Jumat pahingan di menggoro.

Bapak Mangku Miharja ( 73 tahun) seorang laki-laki jangkung sehat berasal dari desa Kalilunjar Selomerto Wonosobo, dia sering dating ke masjid Menggoro ini sejak tahun 1951. Beberapa tahun yang lalu dia bermunajat kemudian ujar (Nazar /midang) kalau desanya mampu bangun masjid yang megah ( karena desanya termasuk kategori IDT) akan melakukan mujahadah di masjid ini selama satu tahun (tiap malam Juamat pahing). Rupanya cita-citanya kesampaian dan masjid sudah selesai menelan dana sekitar tiga ratus juta rupiah, dia sejak pasang pondasi sampai selesainya masjid ini melakukan puasa dan mujahadah di masjid ini atas petunjuk Mbah Muntaha Kalibeber dan Mbah Nawawi Ngadimulyo. Saat ini sambil mujahadah melaksanakan nazarnya dia merencanakan mendirikan tempat pendidikan Raudhatu Athfal Masyithoh di desanya.

Penulis kesulitan referensi dalam bentuk media cetak karena memang “ barangkali tidak ada” sehingga hanya dengan wawancara dengan takmir masjid, beberapa pengunjung serta kaum tertua di wilayah tersebut.
(original text oleh alm.Thohuri Ms M.ag)

Baca juga

Sejarah Singkat Tradisi jumat pahing

Tradisi jumat  pahing di Menggoro

Komentar»

1. nurulmuhammad123@gmail.com - 2015/09/25

bagus… maz le buat,,,..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: