jump to navigation

Tradisi Jum’at Pahing : sejarah singkat 2013/10/07

Posted by M4ZM4N in 1, Bahasan, cerita kita, sejarah, temanggung, tembarak, tradisi.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

   masjid jami didirikan oleh sunan kalijaga

Masjid agung menggoro berdiri sekitar tahun 1424 M oleh Sunan Kalijaga(masa raden Wijaya seorang raja Majapahit), dengan ukuran 6×7 meter dengan 16 tiang penyangga. Di depan masjid terdapat kolam tempat ambil air wudhu maupun mandi. Berdasarkan informasi turun temurun bahwa masjid itu dibangun atas permintaan (diperkirakan) puteri kanjeng Sunan yaitu Nyi Anjasngoro yang kemudian terkenal dengan Bu Nyai Brintik,karena kebetulan semasa kecilnya berambut brintik (ikal).masjid tersebut berfungsi sebagai tempat bertemunya para Wali yang mengembangkan dakwah Islam di kawasan jawa tengah selatan. Sunan kalijaga selain sebagai ayah Nyi Brintik juga sebagai gurunya. Sunan kalijaga di tempat ini tidak lama karena harus berpindah-pindah tempat dalam berdakwah, sehingga pembangunan masjid yang dirintisya belum selesai,maka menjadi tugas Nyi Brintiklah untuk menyelesaikannya. Rupanya berpuluh tahunlah baru baru dapat di katakana selesai sempurna sebagaimana masjid pada umumnya(pada saat itu).
Masjid kuno rintisan Sunan Kalijaga memiliki ciri kusus yaitu puncak tiang penyangga bercirikan ukiran menyerupai tumpukan tatal( sisa-sisa serpihan kayu untuk kusen dan sebagainya),dan Blandar adonan yang menghubungkan tiang satu dengan lainya terdapat paras(kowekan)miring di tengahnya, di masjid agung menggoro ini corak ukir serta potongan adonan tiangnya sama dengan yang ada di masjid Pondok Jagalaga (asuhan Kyai Masruchan) sebelah selatan Kadilangu Demak.

Masjid jami Menggoro foto di ambil 2013

Masjid jami Menggoro foto di ambil 2013

Masjid ini berbentuk persegi dengan teras (serambi) di bagian depan yang biasa digunakan sebagai tempat pengajian dan diskusi mengatur strategi dakwah pada waktu itu, dan di bagian depan masjid terdapat kolam empat persegi panjang kira-kira ukuran 2×7 meter yang biasa digunakan untuk mandi dan tempat wudhu sedangkan jamban berada di sebelah tenggara masjid yang antara pria dan wanita di batasi tembok. Sebelah selatan masjid ada bangunan tempat menginap tamu,yang kemudian hari dijadikan pesantren “Darut Thulab”. Sebelah barat masjid terdapat kuburan masyarakat.Pada awalnya atap masjid terbuat dari sirap yang kemudian diganti dengan genting terbuat dari tanah. Di sebelah depan masjid atau bagian depan di Tanami sepasang pohon tanjung. Bertindak sebagai imam masjid tunjukan Sunan Kalijaga adalah Imam Sabe.

Foto Masjid dari sebelah barat

Foto Masjid dari sebelah barat

Generasi penerus Sunan Kalijaga di bidang dakwahnya di kawasan ini seorang wali muda pengembara dari Negeri seberang (dari wilayah timu) yang bernama Adam Muhammad. Beliu kemudian menggantikan Imam Sabe sebagai imam masjid tersebut. Pada saat itu perjuangan dakwah dilanjutkan Adam Muhammad, sehingga di masjid itu di bentuk semacam organisasi pemelihara masjid, yang sekarang bernama Takmir Masjid. Pada periode ini Imam di pegang Kyai Adam Muhammad, juru kunci Kyai Pahing dan dibantu keturunan Imam Sabe. Pada masa ini kiranya gema dakwah semakin maju, bahkan sampai di datangi seorang pangeran dari kasusan Surakarta yaitu Pangeran Suryaningrat yang kemudian nyantri disitu sampai akhir hayatnya. Nyi Brintik dan Suryaningrat dimakamkan di Jokopati (julukan Suryoningrat yang meninggal ketika masih jejaka) sebuah Dusun 1km sebelah barat Menggoro. Tempat ini menjadi ziarah para Kyai,santri dan orang awam yang punya penggayuhan atau cita-cita mencapai sesuatu.

Gapura bertulis Resa Brahmana Resi BUmi

Gapura bertulis Resa Brahmana Resi BUmi

IMG_8198

Saka yang masih terdapat ukiran

Saka yang masih terdapat ukiran

Bertahun-tahun dan bahkan beratus tahun kemudian berganti pengelola dan sedikit kurang terawat, maka pada tahun 1932 dilakukan rehab masjid yang pertama oleh Bupati Temanggung Cokro Sutimo. Areal sedikit di perluas menjadi ukuran 7×8 meter tetapi tidak merubah bentuk dan desain masjid, karena di depan masjid terdapat kolam, maka perluasan ke belakang dan menyamping. Tiang induk di tengah masjid ada beberapa yang terpaksa dig anti karena rusak. Yang dig anti pada ujung tiangnya tidak terdapat ukiran cirri khas Sunan Kalijaga, dari 16 tiang yang masih ada ukirannya sekitar 9 buah, tiangnya dari kayu jati bundar sekitar 1 meter lingkarannya. Di perkirakan rehab pertama ini di halaman masjid di bangun gapura, dan di gapura tersebut terdapat tulisan jawa kuno yang berbunyai RESA BRAHMANA RESI BUMI dan sampai tulisan ini di sampaikan belum di temukan orang yang dapat mengartikan tulisan tersebut. ( teks Asli Oleh Alm Thohuri Ms M.ag)

Komentar»

1. Munculnya tradisi jumat pahing di menggoro | Istana kecilku - 2013/10/09

[…] Sejarah Singkat Tradisi jumat pahing […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: