jump to navigation

Tradisi Jum’at Paing di menggoro 2009/09/14

Posted by M4ZM4N in cerita kita.
Tags: ,
trackback

Sebuah keyakinan merupakan pilar utama dari suatu keberhasilan. Keberhsilan merupakan tujuan akhir dari sebuah langkah yang dilandasi suatu keyakinan mantap serta percaya diri.  Untuk bisa yakin dan percaya diri membutuhkan sebuah motivasi kuat bahwa apa yang akan dilakukan merupakan perjuangan akhir menuju keberhasilan sebuah cita-cita.  Motivasi bisa diperoleh dan dilakukan deng berbagai cara dan hal, bisa hanya lantaran kabar burung atau selentingan, ada kalanya  cerita teman, juga berita di koran atau media lainnya, yang inti permasalahannya memancing tanggapan konsumennya.  Tak luput pula cerita tentang  wisata keagamaan yg berisi mitos dan ritual menarik bagi mereka yang sedang tertimpa problematika kehidupan, baik berupa cinta, harta maupun tahta. Ini dapat ditemukan di Masjid Jamik Desa Mengoro setiap malam Jum’at pahing. Semenjak rusan tahun yang lalu tiap malam Jum’at pahing tidak pernah sepi peziarah apa lagi pada bulan Muharram. Masjid ini dipenuhi peziarah yang melakukan mujahadah, melepas nazar dan sebagainya dan banyak menginap di serambi masjid.

Mereka berkunjung dengan seribu niat dan tujuan, Cuma untungnya akhir-akhir ini sudah tidak ada togel sehingga tidak ditemukan peziarh mujahadah untuk memimpikan sebuah nomor tepat untuk ditembak. Namun yang dijumpai ratusan pengunjung dengan ratusan tujuan pula, ada yang berkeinginan menjadi seorang kaya harta, berpngkat, sembuh dari penyakit, usaha pertaniannya berhasil, dagangnya penuh keuntungan, yang lama tidak punya momongan sempat pula mujahada untuk minta dikaruniai momongan, menunaikan nadzar, dan bahkan ada yang hanya sekedar ingin tahu, membuktikan berita tentang adanya wisata keagamaan dalam bentuk ritual dan ada mitos yang membahana menggoda.

Penulis membaur tiap malam Jum’t pahing hampir dua tahun, banyak bertemu dengan orang-orang yang sering berkunjung ke tempat ini, kebanyak mereka merasa seperti ada ikatan batin yang mendorong mereka berkunjung  bersama anak isteri walau hanya sekedar shalat jamaah maghrib dan Isya’ di masjid ini, beli oleh-oleh kemudian pulang, dengan membwa rasa tenteram dan tenang, biasanya yang seperti ini adalah mereka yang telah bangkit dari keterpurukan masa lalu lantaran rajin mujahadah di masjid ini bahkan sampai bermalam atau pulang pagi karena harus bekerja. Biasanya yang berhasil tidak hanya sekali dua kali  mujahadah di sini tapi bahkan ada yg telah puluhan kali, namun umumnya yang dapat ditemui penulis  antara  lima sampai tujuh kali sudah dapat dirsakan apa yang dinginkan. Penulis pernah pula mengajak anak puterinya yang , pada waktu itu, mau ujian dan menghadapi momok matematika kalau tidak mencapai  nilai  4, 26 tidak lulus, pada hal Novi, anak penulis di SMA nya tidak pernah dapat nilai baik, mka dengan diberi motivasi dan pikirn positif, dia disuruh mujahadah dengan membaca apa saja yang dia bisa dan mau paling tidak diwirid seribu kali  seperti Ya Syahiidu, Ya Rasyiidu, dengan didobeli belajar sungguh-sungguh, yang pada akhirnya momok itu hancur ketika SKHUN keluar pada matematika tertera angka 7, 20. Rupanya hanya Allah Yang Maha Tahu, karena memang Dia Yang Maha memberi keputusan dan mengabulkan doa hamba-Nya.

Masjid yang didirikan  beratus-ratus tahun silam ini kelihatannya menyimpn misteri dan mitos yang kuat, sebab sama-sama masjid seperti yang ada di kampung kita, sama-sama tempat ibadah, tapi seolah-olah hanya di tempt ini doa-doa kita benar-benar didengar Allah, pada hal Allah telah berfirman : AD’UUNI ASTAJIB LAKUM, (berdoalah pasti Aku kabulkan) di dalam ayat tersebut tidak menyinggung soal tempat dan apa yang dibaca  sebelum berdoa, tapi mengapa yang jadi pilihan dan memiliki daya tarik tersendiri di masjid Menggioro ini.

Atau yang lebih mengherankan lagi bagi mereka yang bernadzar baik dilakukan di rumah ataupun di masjid ini, dan bahkan ada yang bernadzar ke masjid ini apabila  usahanay berhasil, at anak / cucunya diberi kesehatan dari sakit akutnya dan sebagainya, mengapa harus nadzar hanya untuk zirah dan shalat di dalam masjid ini. Banyak penulis temui peziarah yang datang ke masjid ini baru sekali ini  untuk menunaikan nazarnya dengan membawa cucunya yang berumur tujuh tahun yang beberapa wakltu lalu sakit-sakitan sampai ditinggal mati orang tuanya, merasa bersyukur hanya dengan mengucapkn nadzar berdoa / mujahadah di masjid Jum’at pahing penyakitnya bisa sembuh pada hl sudah berbagai cara dan upaya tidak juga kunjung sembuh, maka sebagai rasa syukur dan merasa wajib menunaikan nadzarnya, maka ia lakukan dengan penuh keikhlasan dan bkan cucunya diajak menginap, paginya sambil beli kembang mboreh, salah satu bukti telah melaksankan nadzarnya.

Salah satu mitos yang berkembang selain apa yang dipaparkan di atas yaitu ada suatu keanehan, dan pernah penulis saksikan, yaitu memeluk salah satu tiang di dalam masjid dengan satu tangan, boleh kanan boleh kiri, katanya, yang mampu menyentuhkan ujung jarinya ketika merangkul tiang itu dengan ujung  pundak sebelahnya, yang akan mendapat keberuntungan besar. Hanya sekali penulis menyaksikan, sayangnya tidak terdokumentasikan, dan berharap berikutnya masih ada, sehingga selalu mengamati setiap pengunjung yang melakukan itu, namun belum pernah menemukan lagi. Salah seorang yang berhasil merangkulnya itu juga tidak pernah bertemu lagi, berasal dari mana dan namanya siapa, karena waktu itu penulis belum tergerak untuk membukukan apa yang disaksikan di masjid Jum’at pahing ini. Mitos lain bahwa dalam masjid ada tempat-tempat mustajab untuk memperoleh apa yang diinginkan, misalnya yang menginginkan harta benda dunia melsanakannya dimana, jika untuk mendaptkan ilmu  serta untuk mendapatkan kekayaan yang bermanfaat di dunia dan herat dan lain sebagainya.

Barangkali ada yang tertarik datang hanya untuk  menikmati makanan khas Jum’at pahingan seperti brongkos kikil kepala kambing, cucur, ketan uran dengan serundeng dan lain-lain, dan bahkan banyak anak-anak muda yang datang rame-rame tidak mujahadah di dalam masjid tapi di pasar berdesak-desakan  pijit kupat sana kupat sini buat pesta lecil-kecilan. Pasar ini merupakan pengembangan pada  waktu itu ketika para pengunjung semakin bany banyak yang menginaop dan membutuhkan berbagai makan malam dan makan pagi, sehingga oleh mbah Pahing diciptakan pasar makanan dan kemudian berkembang dengan berbagai cindera mata maupun perlengkapan lain  seperti pecis, tasbih dan sebagainya. Kelengkapan lain seperti kembang boreh juga tersedia sebab ini juga merupakan salah satu kepercayaan bahwa yang diborehi berarti telah melunasi nadzarnya di sini. (originaly text by alm.Thohuri MS)

Komentar»

1. Fagins - 2010/08/15

Dari pondok parakan tebih mboten pak . . ? :)) tempo hari sy sempat silaturohim ke parakan . .

MAZMAN - 2010/08/16

Dari parakan sekitar 15 km ,dari kota temanggung ke arah selatan sekitar 7 km🙂 …. tepatnya di kecamatan Tembarak desa menggoro

2. islah - 2013/01/22

sya tambahi:perintis psar jumat pahing adalah syeh kyai pahing yang makamnya di dsun ngabean menggoro.mkam tersebut sering di ziarahi oleh pengunjung. selain itu ada makam satu lagi yang di belakang pondok pesantren persis/masjid yaitu almukarom K Raoyan,Kyai Balawi yang memperjuangkan ajaran islam di menggoro.

3. Munculnya tradisi jumat pahing di menggoro | Istana kecilku - 2013/10/09

[…] Tradisi jumat  pahing di Menggoro […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: